Gagal. Apa sih Kegagalan itu? Is it such a nightmare? Coba
kita intip definisi “Gagal” menurut KBBI: Gagal adalah tidak berhasil atau
tidak tercapai (maksud, cita-citanya, dsb). Siapa sih yang mau mengalami
kegagalan? Gagal identik dengan kesedihan, kekecewaan, frustasi,
ketidakberuntungan, kemalangan, dan bahkan dapat menimbulkan rasa malu (Kok
tau? | Iya, dari pengalamaan pribadi T.T). Tentu semua orang tidak ingin
mengalami kegagalan. Tapi harus kita sadarai bahwa semua orang akan mengalami
kegagalan karena itu merupakan ujian dari Tuhan.
Haaaahhh... pikiran gue jadi melayang ke masa lalu. Eh? Bukan.
Bukan keinget mantan kok. Gue jadi ingat pengalaman di SMA atau Sekolah
Menengah Atas (buat yang belum tau, nih gue kasih tau). Jadi begini
ceritanya... *nyeruput kopi*
Waktu SMA, gue tergolong siswa yang prestasi akademiknya
lumayan. Iyakan temen-temen? *jilat pedang* Sudah beberapa kali gue dipercaya
mewakili sekolah untuk mengikuti lomba. Tapi begitulah, gue nggak pernah beruntung
atau emang gue yang kurang pinter yak. Padahal sebelum ikut lomba, gue udah
percaya diri. Gue ngerasa bangga sama diri gue. Gue ngerasa keren.
Puncaknya, waktu itu gue ikut Olimpiade Kimia tingkat
kabupaten. Sial, gue kalah, gue takluk sama rumus-rumus kimia. Dan sialnya
lagi, gue lupa ikut pemilihan wakil buat lomba bahasa inggris karena sibuk
menyesali kekalahan gue. Oh, bisakah ini
jadi lebih buruk?!? Bisa! gue pulang jalan kaki, kesedihan gue semakin
menyesakkan dada di setiap langkah gue. Seakan belum cukup, guyuran hujan
mengiringi perjalanan pulang gue, melarutkan semua jiwa bahagia gue.
Awan-awan menghitam,
langit runtuhkan bumi. Saat aku tahu kenyataan menyakitkan.
Ga nyangka, gue masih bisa nyanyi. Huaaaa, awan mendung di
mata gue juga ikut menitikkan airnya. Yah, gue gagal. Gue nggak jadi pamer piala ke temen-temen. Gue
malu buat ngomongin rumus kimia lagi. Gue malu buat ngomong sok pake bahasa
orang bule lagi.
Rasa sedih gue masih bertahan sampe keesokan harinya, entah
siapa yang nyampurin formalin, perasaan sedih ini jadi awet. Hari itu ada temen
yang ngajakin pergi, tapi gue nolak, hati gue masih berkabung atas tragedi
kemarin. Akhirnya gue malah merenung di warnet. Klak-klik-klak-klik, klik link
sini, lihat link sana, berharap nemuin sesuatu yang indah *eh*. Tapi tenang,
sebelum nyalain komputer, gue udah baca bismillah kok dan mungkin Allah udah
nuntun mouse gue warnet yang
gue pake menuju takdir selanjutnya.
Langsung aja nggak sengaja gue liat status facebook Televisi
Edukasi yang ngadain Kuis KiHajar lagi tahun ini. FYI, tiga tahun sebelumnya
gue udah pernah ikut ini dan...gue kalah. Kuis KiHajar ini sih lombanya
ngerjain soal-soal, materinya semua mata pelajaran di sekolah. Gue coba daftar.
Dengan sistem yang berbeda dengan tiga tahun lalu, ini jadi semakin susah buat
gue. Tapi gue tetep berusaha jawab soal-soalnya tiap hari, apalagi ortu gue juga
ngedukung. Hanya ada satu peserta dengan nilai tertinggi di tiap provinsi yang
bisa lanjut ke babak selanjutnya. Satu bulan pertama, gue masih terus nangkring
di peringkat pertama Provinsi Jawa Tengah. Tapi satu bulan berikutnya, gue
berakhir di peringkat enam. Gue frustasi. Usaha gue selama ini seperti sia-sia
dan ga ada artinya.
Setidaknya diriku pernah berjuang. Meski tak pernah ternilai dimatamu.
Perasaan waktu gue kalah lomba
mengambang lagi ke permukaan. Emak gue sepertinya udah hampir manggil psikiater.
Gue jadi horor sendiri.
Fortunately, di hari yang cerah,
penuh cahaya matahari, dan banyak semilir angin berembus, Emak gue bahagia karena
jemuran jadi cepet kering. Gue juga ikut seneng karena gue dapat sms dari admin
Kuis KiHajar, kalau peringkat 1-15 berhak maju ke babak selanjutnya. Gue jingkrak-jingkrak
kegirangan sampe kucing gue yang lagi tidur jadi bangun, berharap dapat
traktiran ikan goreng. Berangkatlah gue ke Semarang. Gue ikutin lombanya
sesemangat mungkin, gunain otak gue buat jawab semua soal dengan semaksimal
mungkin, dan menggoda jurinya dengan kedipan mata yang semenarik mungkin
*alamak, keceplosan*
Alhamdulillah, siang itu gue dapat
makan gratis dan jadi juara 2. Aaaakkk! Gue seneng banget, vrooh! Ternyata
usaha gue nggak sia-sia. Tak henti-hentinya aku bersyukur. Ini juga berkat ortu
gue. Akhirnya gue ngerasain kebahagiaan itu. Akhirnya gue ngerasa keren. Dan
akhirnya gue bisa berpikir dengan jernih. Setelah dipikir-pikir, untung aja
hari itu gue kalah lomba dan nggak ikut lomba bahasa inggris. Kalau pun gue
ikut lomba bahasa inggris, sepertinya juga nggak menang karena persiapan yang
kurang matang dari sekolah (hasil pengamatan). Untung aja hari itu gue lagi
frustasi dan nggak mood untuk pergi sama temen. Kalau gue tetep pergi, mungkin
gue nggak akan nemuin info tentang Kuis KiHajar, mungkin pas balik ke rumah gue
cuma diomelin Emak karena pulang telat dan berujung ngebersihin toilet.
![]() |
Pialanya keren kan? Bahannya bening gituh :D |
Jadi, begitulah. Kegagalan ada
sebagai awal dari keberhasilan. Allah ingin mengetahui apa yang kita lakukan
jika kita gagal, karena orang yang berhasil bukanlah orang yang tidak pernah
gagal, tapi orang yang terus bangkit tatkala jatuh dan menjadikan kajatuhannya itu
sebagai motivasi dan pelajaran. Setelah merenungi kenangan ini, gue jadi lebih bisa sabar
menghadapi kegagalan, gue coba untuk ikhlas dan mencari hikmah dibalik setiap
kegagalan. Gue yakin, selalu ada kebaikan dan pelajaran dalam setiap masalah
atau kegagalan. Setiap orang punya waktunya sendiri untuk mendapat kebahagiaan.
Jika gue gagal dan orang lain yang berhasil, gue berusaha untuk nggak dengki,
gue kan nggak tau seberapa besar usaha orang itu. Yang terpenting, gue nggak
boleh putus asa, terus bersyukur & berdoa, optimis, luruskan niat (tujuan
gue harus bener), dan terus berusaha untuk meraih kebahagiaan itu.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan
kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan
buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:
155)
“Jadikanlah sabar dan shalat
sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali
bagi orang-orang yang khusyuk,” (Al-Baqarah: 45)
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu
ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (Al-Insyirah: 5-6)
“Jangan putus asa. Jangan pernah berputus
asa. Saat kau kehilangan harapan, segalanya pun musnah. Saat kau pikir semua
telah berakhir, ketika segala sesuatu tampak buruk dan sia-sia, harapan itu
selalu ada.” (Pittacus Lore dalam buku “I am Number Four”)
Hai, thanks udah ikutan GA gue ..
BalasHapusBerkah banget ya bisa jadi juara 2 setelah kegagalan sebelumnya ...
keren! selamat deh, traktirannya bawa ke gue ya :D
Makasih, Kak. Traktiran itu apa ya? o.O
Hapus"Setidaknya diriku pernah berjuang. Meski tak pernah ternilai dimatamu."
BalasHapussuka banget sama kalimat itu :), sukses buat GA nya, aku juga ikutaan hehe
Ho.oh, sampai terharu.. :')
HapusYeay, semoga kita menang! *baca mantra, bakar menyan, tabur kembang 7 baskom*