Rabu, 12 November 2014

Harapan itu Selalu Ada


Gagal. Apa sih Kegagalan itu? Is it such a nightmare? Coba kita intip definisi “Gagal” menurut KBBI: Gagal adalah tidak berhasil atau tidak tercapai (maksud, cita-citanya, dsb). Siapa sih yang mau mengalami kegagalan? Gagal identik dengan kesedihan, kekecewaan, frustasi, ketidakberuntungan, kemalangan, dan bahkan dapat menimbulkan rasa malu (Kok tau? | Iya, dari pengalamaan pribadi T.T). Tentu semua orang tidak ingin mengalami kegagalan. Tapi harus kita sadarai bahwa semua orang akan mengalami kegagalan karena itu merupakan ujian dari Tuhan.

Haaaahhh... pikiran gue jadi melayang ke masa lalu. Eh? Bukan. Bukan keinget mantan kok. Gue jadi ingat pengalaman di SMA atau Sekolah Menengah Atas (buat yang belum tau, nih gue kasih tau). Jadi begini ceritanya... *nyeruput kopi*


Waktu SMA, gue tergolong siswa yang prestasi akademiknya lumayan. Iyakan temen-temen? *jilat pedang* Sudah beberapa kali gue dipercaya mewakili sekolah untuk mengikuti lomba. Tapi begitulah, gue nggak pernah beruntung atau emang gue yang kurang pinter yak. Padahal sebelum ikut lomba, gue udah percaya diri. Gue ngerasa bangga sama diri gue. Gue ngerasa keren.
Puncaknya, waktu itu gue ikut Olimpiade Kimia tingkat kabupaten. Sial, gue kalah, gue takluk sama rumus-rumus kimia. Dan sialnya lagi, gue lupa ikut pemilihan wakil buat lomba bahasa inggris karena sibuk menyesali kekalahan gue. Oh, bisakah ini  jadi lebih buruk?!? Bisa! gue pulang jalan kaki, kesedihan gue semakin menyesakkan dada di setiap langkah gue. Seakan belum cukup, guyuran hujan mengiringi perjalanan pulang gue, melarutkan semua jiwa bahagia gue.
                    Awan-awan menghitam, langit runtuhkan bumi. Saat aku tahu kenyataan menyakitkan.
Ga nyangka, gue masih bisa nyanyi. Huaaaa, awan mendung di mata gue juga ikut menitikkan airnya. Yah, gue gagal. Gue nggak jadi pamer piala ke temen-temen. Gue malu buat ngomongin rumus kimia lagi. Gue malu buat ngomong sok pake bahasa orang bule lagi.



Rasa sedih gue masih bertahan sampe keesokan harinya, entah siapa yang nyampurin formalin, perasaan sedih ini jadi awet. Hari itu ada temen yang ngajakin pergi, tapi gue nolak, hati gue masih berkabung atas tragedi kemarin. Akhirnya gue malah merenung di warnet. Klak-klik-klak-klik, klik link sini, lihat link sana, berharap nemuin sesuatu yang indah *eh*. Tapi tenang, sebelum nyalain komputer, gue udah baca bismillah kok dan mungkin Allah udah nuntun mouse gue warnet yang gue pake menuju takdir selanjutnya.

Langsung aja nggak sengaja gue liat status facebook Televisi Edukasi yang ngadain Kuis KiHajar lagi tahun ini. FYI, tiga tahun sebelumnya gue udah pernah ikut ini dan...gue kalah. Kuis KiHajar ini sih lombanya ngerjain soal-soal, materinya semua mata pelajaran di sekolah. Gue coba daftar. Dengan sistem yang berbeda dengan tiga tahun lalu, ini jadi semakin susah buat gue. Tapi gue tetep berusaha jawab soal-soalnya tiap hari, apalagi ortu gue juga ngedukung. Hanya ada satu peserta dengan nilai tertinggi di tiap provinsi yang bisa lanjut ke babak selanjutnya. Satu bulan pertama, gue masih terus nangkring di peringkat pertama Provinsi Jawa Tengah. Tapi satu bulan berikutnya, gue berakhir di peringkat enam. Gue frustasi. Usaha gue selama ini seperti sia-sia dan ga ada artinya.
                    Setidaknya diriku pernah berjuang. Meski tak pernah ternilai dimatamu.
Perasaan waktu gue kalah lomba mengambang lagi ke permukaan. Emak gue sepertinya udah hampir manggil psikiater. Gue jadi horor sendiri.

Fortunately, di hari yang cerah, penuh cahaya matahari, dan banyak semilir angin berembus, Emak gue bahagia karena jemuran jadi cepet kering. Gue juga ikut seneng karena gue dapat sms dari admin Kuis KiHajar, kalau peringkat 1-15 berhak maju ke babak selanjutnya. Gue jingkrak-jingkrak kegirangan sampe kucing gue yang lagi tidur jadi bangun, berharap dapat traktiran ikan goreng. Berangkatlah gue ke Semarang. Gue ikutin lombanya sesemangat mungkin, gunain otak gue buat jawab semua soal dengan semaksimal mungkin, dan menggoda jurinya dengan kedipan mata yang semenarik mungkin *alamak, keceplosan* 

Alhamdulillah, siang itu gue dapat makan gratis dan jadi juara 2. Aaaakkk! Gue seneng banget, vrooh! Ternyata usaha gue nggak sia-sia. Tak henti-hentinya aku bersyukur. Ini juga berkat ortu gue. Akhirnya gue ngerasain kebahagiaan itu. Akhirnya gue ngerasa keren. Dan akhirnya gue bisa berpikir dengan jernih. Setelah dipikir-pikir, untung aja hari itu gue kalah lomba dan nggak ikut lomba bahasa inggris. Kalau pun gue ikut lomba bahasa inggris, sepertinya juga nggak menang karena persiapan yang kurang matang dari sekolah (hasil pengamatan). Untung aja hari itu gue lagi frustasi dan nggak mood untuk pergi sama temen. Kalau gue tetep pergi, mungkin gue nggak akan nemuin info tentang Kuis KiHajar, mungkin pas balik ke rumah gue cuma diomelin Emak karena pulang telat dan berujung ngebersihin toilet.

Pialanya keren kan? Bahannya bening gituh :D


Jadi, begitulah. Kegagalan ada sebagai awal dari keberhasilan. Allah ingin mengetahui apa yang kita lakukan jika kita gagal, karena orang yang berhasil bukanlah orang yang tidak pernah gagal, tapi orang yang terus bangkit tatkala jatuh dan menjadikan kajatuhannya itu sebagai motivasi dan pelajaran. Setelah merenungi kenangan ini, gue jadi lebih bisa sabar menghadapi kegagalan, gue coba untuk ikhlas dan mencari hikmah dibalik setiap kegagalan. Gue yakin, selalu ada kebaikan dan pelajaran dalam setiap masalah atau kegagalan. Setiap orang punya waktunya sendiri untuk mendapat kebahagiaan. Jika gue gagal dan orang lain yang berhasil, gue berusaha untuk nggak dengki, gue kan nggak tau seberapa besar usaha orang itu. Yang terpenting, gue nggak boleh putus asa, terus bersyukur & berdoa, optimis, luruskan niat (tujuan gue harus bener), dan terus berusaha untuk meraih kebahagiaan itu.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 155)

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,”  (Al-Baqarah: 45)

"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (Al-Insyirah: 5-6)

Jangan putus asa. Jangan pernah berputus asa. Saat kau kehilangan harapan, segalanya pun musnah. Saat kau pikir semua telah berakhir, ketika segala sesuatu tampak buruk dan sia-sia, harapan itu selalu ada.” (Pittacus Lore dalam buku “I am Number Four”)



4 komentar:

  1. Hai, thanks udah ikutan GA gue ..

    Berkah banget ya bisa jadi juara 2 setelah kegagalan sebelumnya ...
    keren! selamat deh, traktirannya bawa ke gue ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih, Kak. Traktiran itu apa ya? o.O

      Hapus
  2. "Setidaknya diriku pernah berjuang. Meski tak pernah ternilai dimatamu."

    suka banget sama kalimat itu :), sukses buat GA nya, aku juga ikutaan hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ho.oh, sampai terharu.. :')

      Yeay, semoga kita menang! *baca mantra, bakar menyan, tabur kembang 7 baskom*

      Hapus

Harry Potter - Delivery Owl