 |
| Source: www.paris-saint-honore.com |
Langkah kami memburu, cemas dan
panik tergambar jelas di wajah Risa.
“Maafin aku,
Aris. Kalau saja aku tidak terlalu lama di Flea Market, kita tidak akan
ketinggalan rombongan.” pinta Risa sesenggukan.
“Kau sudah
mengatakannya tujuh kali, Ris,” ujarku tanpa memandangnya, mataku fokus
mengamati sekitar, berharap menemukan rombongan kami di antara bule-bule Paris.
“Lagi pula, bagaimana bisa handphone-mu
ketiggalan?”
“Handphone-mu yang yang mati itu juga
sama useless-nya.”
Kami terus melangkah, berharap
tidak semakin tersesat di kota yang baru pertama kali dikunjungi. Ketika keluar
dari jalan setapak, kaki kami berhenti serempak.
“Itu Pond des
Arts?”
“Apa?” tanya
Risa bingung.